Apa faktor utama kesuksesan ?
Bima Sena
Penulis & Pengamat
Sebagian orang berpikir, kesuksesan adalah komposisi dari banyak faktor, lebih lanjut faktor ini difokuskan menjadi beberapa aspek non teknis seperti privillege. Tentu itu tidak salah, karena itu adalah parameter umum yang mudah diamati.
Lalu dimana kekuatan seseorang yang tidak punya tanah untuk berpijak?, anak yang kehilangan masa jaya ketika sedang di masa kritis, keluarga besar yang menjadi parasit setiap kali menyedot sisa sisa bangkai kejayaan yang sudah rata dengan tanah.
Bertahun tahun aku meratapi keadaan mencari kunci dari setiap gembok yang ditinggalkan orang tua ku oleh kegagalannya menjadi orang tua. Melihat semua fakta penelitian lapangan bahwa kemiskinan melahirkan rantai kemisikinan. Fakta ini memberikan ku gambaran pasti bahwa hidup tidak akan pernah mudah kedepannya.
Sampai akhirnya, aku sadar ketika membaca penelitian dan podcast dari Jensen Huang (Founder NVIDIA). Bahwa kekuatan sejati tidak lahir dari tanah warisan yang subur, melainkan dari seberapa besar dosis penderitaan yang sanggup diserap dan diolah oleh sebuah sistem saraf.
Dalam podcast nya di depan mahasiswa elit Stanford yang hidupnya dilapisi privilege, Jensen Huang tidak mendoakan mereka kesuksesan yang mulus. Ia justru melontarkan satu kalimat brutal yang meruntuhkan ilusi mereka: "I wish upon you ample doses of pain and suffering" (Aku mendoakan kalian mendapatkan porsi rasa sakit dan penderitaan yang melimpah).
Jensen—seorang pria yang pernah nyaris membangkrutkan perusahaannya sendiri dan harus memecat separuh karyawannya saat uangnya hanya tersisa untuk hidup beberapa bulan—tahu persis satu kebenaran absolut: Kebesaran (greatness) tidak pernah dibangun di atas kecerdasan intelektual semata. Kebesaran dibangun dari karakter. Dan karakter, secara biologis maupun psikologis, hanya bisa ditempa di dalam kawah candradimuka bernama kegagalan, rasa muak, dan keputusasaan.
Sains memvalidasi hal ini dengan sangat presisi. Memang benar ada pepatah sosiologis bahwa "kemiskinan melahirkan kemiskinan", tapi ada sebuah anomali statistik yang disebut The Cycle Breaker (Sang Pemutus Rantai).
Dalam salah satu penelitian psikologi paling epik, Studi Longitudinal Kauai yang dipimpin oleh Emmy Werner, para ilmuwan melacak ratusan anak yang lahir dalam kondisi paling neraka: kemiskinan ekstrem, keluarga yang berantakan, dan orang tua yang toksik serta gagal menjalankan perannya. Logika umum akan memprediksi anak-anak ini berakhir hancur.
Namun, ada sepertiga dari mereka yang mematahkan prediksi itu. Mereka tidak sekadar bertahan hidup (survive), mereka tumbuh menjadi manusia dengan resiliensi tingkat dewa. Kunci dari kekuatan mereka bukanlah uang atau bantuan orang lain, melainkan Internal Locus of Control—sebuah kesadaran absolut bahwa meskipun mereka tidak bisa memilih orang tua yang melahirkan mereka, mereka memegang kendali penuh atas arsitektur masa depan mereka sendiri. Mereka secara sadar memisahkan diri dari sumber racun itu dan menolak membiarkan kegagalan orang tua menjadi source code kehidupan mereka.
Di titik inilah, cara pandangku terhadap rasa sakit berubah total.
Penderitaan finansial, beban menahan atap keluarga yang runtuh karena pria yang seharusnya menjadi tiang memilih menyerah, dan keharusan mengorbankan masa muda, bukanlah sebuah vonis mati. Di dalam ilmu Engineering, apa yang sedang kualami ini adalah Stress Testing (Uji Ketahanan Beban) tingkat tinggi.